Amuntai (MTsN 1 HSU) – Suasana kelas VII C Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 1 Hulu Sungai Utara (HSU) tampak ceria pada Selasa (24/2/2026). Satu per satu siswa maju ke depan kelas membacakan jurnal harian mereka yang penuh dengan cerita unik dan mengharukan tentang pengalaman pertama mereka menjalani Ramadhan tahun ini.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari inovasi pembelajaran Bahasa Indonesia yang digagas oleh Mutia Rahmah, S.Pd., guru Bahasa Indonesia di madrasah tersebut. Ia memberikan tugas kepada para siswanya untuk membuat jurnal harian bertajuk “Ramadhan Pertamaku bersama MTsN 1 HSU” selama belajar di rumah pada minggu pertama Ramadhan. Jurnal tersebut berisi beragam pengalaman pribadi siswa yang dituangkan ke dalam teks informatif, untuk kemudian dibacakan secara bergantian di depan kelas saat jam pelajaran Bahasa Indonesia berlangsung.
Mutia menjelaskan bahwa kegiatan ini sengaja dirancang untuk menjaga semangat belajar siswa sekaligus menumbuhkan budaya literasi di tengah bulan Ramadhan. Menurutnya, menulis jurnal harian adalah salah satu cara paling efektif untuk melatih kemampuan menulis sekaligus mendorong siswa berpikir reflektif dan kritis terhadap pengalaman mereka sendiri.
“Saya ingin anak-anak tidak hanya menjalani Ramadhan begitu saja, tetapi juga mampu memaknainya dan mengekspresikannya melalui tulisan. Dengan menulis jurnal, mereka berlatih menyusun kalimat, memperkaya kosakata, sekaligus merekam momen berharga yang tidak akan terlupakan,” ujar Mutia.
Literasi memang menjadi salah satu kompetensi mendasar yang terus diupayakan peningkatannya di lingkungan madrasah. Kemampuan membaca dan menulis yang baik tidak hanya menunjang prestasi akademik, tetapi juga membentuk pola pikir siswa agar lebih kritis, analitis, dan komunikatif. Melalui penulisan jurnal harian, siswa dilatih untuk menuangkan gagasan secara runtut, menggunakan bahasa yang baik dan benar, serta membiasakan diri mendokumentasikan pengalaman secara tertulis — keterampilan yang sangat berharga bagi perkembangan mereka di masa depan.
Yang menarik, pembacaan jurnal ini tidak dilakukan sekaligus dalam satu pertemuan. Mutia merancang kegiatan tersebut agar berlangsung secara berkelanjutan, di mana sebanyak dua hingga tiga jurnal siswa akan dibacakan setiap pertemuan sebagai ice breaking sebelum pembelajaran Bahasa Indonesia dimulai. Pendekatan ini dipilih dengan cermat agar suasana kelas menjadi hangat dan cair sejak awal, sekaligus menjadi pemantik semangat belajar para siswa di madrasah selama bulan Ramadhan. Dengan cara ini, seluruh siswa di kelas VII C mendapat giliran tampil, dan setiap sesi pembelajaran pun selalu dibuka dengan nuansa yang menyenangkan dan penuh kebersamaan.
“Setiap masuk pelajaran Bahasa Indonesia, kita akan buka dulu dengan dua atau tiga anak membacakan jurnalnya di depan kelas. Selain jadi ice breaking yang menyenangkan, saya harap ini juga bisa jadi penyemangat anak-anak untuk tetap bersemangat belajar di madrasah meskipun sedang berpuasa,” jelas Mutia.
Berbagai cerita menarik dan mengundang tawa pun mewarnai sesi pembacaan jurnal di kelas VII C. Salah satu yang paling berkesan datang dari Amalia, siswi yang dengan polos mengisahkan pengalaman sahur pertamanya yang kurang mulus. Ia terlambat bangun sehingga tidak sempat menyantap makanan yang tersedia, dan akhirnya hanya makan beberapa butir kurma serta minum air putih sebagai bekal puasa sepanjang hari.
“Aku kaget waktu lihat jam sudah hampir imsak, langsung panik. Akhirnya cuma sempat makan kurma sama minum air putih. Tapi ternyata kuat juga puasanya, alhamdulillah,” cerita Amalia sambil tersenyum saat membacakan jurnalnya di depan kelas, disambut gelak tawa teman-temannya.
Pengalaman jujur dan apa adanya seperti milik Amalia inilah yang justru membuat kegiatan ini terasa bermakna. Siswa tidak hanya belajar menulis secara teknis, tetapi juga belajar berani mengekspresikan diri, berempati terhadap pengalaman orang lain, serta menghargai setiap momen kecil dalam kehidupan sehari-hari.
Mutia berharap kegiatan ini dapat terus berlanjut dan menginspirasi guru-guru lain untuk mengintegrasikan nilai-nilai Ramadhan ke dalam pembelajaran di kelas. Ia juga optimistis bahwa jurnal-jurnal sederhana yang ditulis para siswanya hari ini akan menjadi kenangan berharga sekaligus bukti nyata tumbuhnya budaya literasi di MTsN 1 HSU.
“Harapan saya, anak-anak semakin mencintai dunia tulis-menulis. Kalau mereka sudah terbiasa menulis dari hal-hal kecil yang mereka alami sendiri, ke depannya mereka tidak akan kesulitan mengungkapkan pikiran dan perasaan mereka secara tertulis dalam situasi apapun,”pungkas Mutia. (Rep/Ft: Masitah)

